16 May 2011

Maicih : Keripik 'Setan' dari Bandung


Maicih, mungkin nama ini tidak semua orang mengetahuinya termasuk aku hehehehe. Tapi entah kenapa akhir-akhir ini banyak sekali orang-orang yang membicarakan tentang Maicih ini, khususnya dari Twitter, sekitar satu minggu yang lalu banyak teman-temanku di Twitter yang membahas Maicih ini. Apa sebenarnya Maicih itu ?

Maicih atau Keripik Maicih berasal dari Bandung, dan yang tinggal di sekitar Bandung tentu tidak asing lagi dengan Keripik Maicih ini. Rasa pedasnya yang (mungkin) sedikit 'keterlaluan' dan pemasarannya yang menggunakan jaringan sosial seperti Facebook dan Twitter membuat Maicih ini membuat sebagian orang khusunya kalangan anak muda penasaran tentang rasanya, termasuk aku sendiri hehehehe.

Yang menarik disini juga adalah pemberian istilah untuk konsumen Maicih yang disebut 'cucu' dan pembuat Maicih yang disebut 'emak' . Untuk resellernya dijuluki 'ichiers'. Hmm lumayan unik juga.


Untuk membuktikan seberapa pedasnya keripik 'setan' ini aku mencoba mencarinya di salah satu reseller Maicih Bali yang berlokasi di sekitar Panjer. Dari informasi yang aku dapatkan di Twitter,reseller itu menyediakan Maicih dalam jumlah yang terbatas. Mungkin karena rasa penasaran yang tinggi akhirnya aku langsung membeli yang (konon katanya) paling pedas, yaitu Maicih Level 10, tapi entah kenapa saat aku mencarinya ternyata cuma tersisa dua bungkus saja, apa karena jumlah stoknya sedikit, masih disembunyiin atau aku kecolongan 'start'. Rencana sih pengen beli satu aja, tapi karenaada teman yang mau nitip ya terpaksa 'sikat' aja semua Level 10 nya hehehe.. dengan 50 ribu, 2bungkus Maicih Level 10 aku dapatkan. Masih terlintas di pikiran : apanya yang bikin mahal yah ?Mereknya ? Levelnya ? Atau dari resellernya ngambil untung ? Ah yang penting udah beli aja. Masalah nanti kalo mau beli lagi atau enggak, lihat aja nanti.


Gigitan pertama kusodorkan kepada Maicih ini dan ternyata pedasnya (yah) lumayan juga, tapi beberapa teman mengatakan kalau pedasnya Maicih Level 10 itu pedasnya luar biasa. Apa karena aku terbiasa makan pedas atau emang lagi beruntung kali yah ? Hehehehehe. Pedesnya didominasi oleh rasa merica dan selebihnya adalah cabai yang sampai batu-batu cabainya keliatan :D

Kesimpulan :
– Bagi yang terbiasa dengan 'pedas' , Maicih Level 10 ini cocok ditambahkan pada daftar
makanan Anda mulai sekarang.
– Karena persediaannya yang terbatas dan pemasarannya masih menggunakan jaringan sosial,
hendaknya selalu pantau Twitter resmi Maicih ; @infomaicih
– Yang pernah mengalami masalah dengan pencernaan seperti maag, tipes atau enggak kuat
dengan hal-hal yang berkaitan dengan 'pedas', hapus kata Maicih dari pikiran Anda :D.

01 May 2011

Ubuntu 11.04


Tepat di tanggal 28 April 2011, Ubuntu versi 11.04 secara resmi direlease dan sudah memasuki versi final dimana bug dan error yang ditemui di versi beta sebelumnya sudah di fixed. Tentunya aku sebagai computer enthusiast sangat menantikan kehadiran Ubuntu yang baru ini, yah bukannya bagaimana gitu, lah aku ini orangnya termasuk tipe yang agak bosenan dan suka dengan hal-hal yang baru termasuk pada Ubuntu ini.

Setelah aku melihat beberapa review-review Ubuntu terbaru ini di beberapa forum, banyak yang menyatakan bahwa Ubuntu yang baru ini memiliki tampilan yang berbeda dibandingkan Ubuntu sebelumnya, ada yang pro, begitu pula yang kontra. Selain tampilan, ada beberapa program yang digantikan dengan program baru yang sebenarnya tidak berbeda jauh dengan versi sebelumnya juga. Yah terkadang perubahan itu perlu untuk hal yang lebih baik, tapi tidak semua orang perlu dengan perubahan tersebut mengingat kepentingan mereka yang berbeda satu sama lain.

Berikut adalah beberapa fitur yang terdapat pada Ubuntu 11.04 dan perubahan jika dibandingkan dengan Ubuntu sebelumnya:






1. Desktop Environment (DE), dimana saat ini Ubuntu 11.04 sudah menggunakan theme Ubuntu One (Unity) yang biasanya terdapat pada Ubuntu versi netbook (Ubuntu Netbook Edition) sebagai default DE. Ini berbeda dengan Ubuntu sebelumnya yang masih menggunakan GNOME (tampilan standar) dan ini yang membuat Ubuntu 11.04 banyak dibicarakan oleh pihak pro dan kontra terhadap DE terbaru ini.





2. Office Application, dimana saat ini OpenOffice yang sudah pre-installed di Ubuntu digantikan oleh LibreOffice. Dari segi tampilan dan fungsionalitas terlihat sama persis mengingat LibreOffice dikembangkan oleh orang-orang yang juga mengembangkan OpenOffice. Mungkin biar enggak bosen kali yah ? hehehehehe.





3. Music Application, Banshee saat ini menggantikan Rhythmbox sebagai default music player. Untuk kualitasnya aku belum bisa mencobanya karena terbatasnya bandwidth untuk mendownload plugin MP3 agar bisa melakukan music playback. Hehehehehehe.





4. Internet Browser, jika sebelumnya pada Ubuntu 10.10 masih menggunakan Firefox versi 3.6.10 maka di Ubuntu 11.04 ini sudah menggunakan Firefox versi 4.0 dimana versi terbaru dari Firefox ini memilik tampilan yang lebih sederhana dan diklaim memiliki kecepatan yang lebih dibandingkan Firefox sebelumnya.

Sementara ini hanya segitu saja yang bisa aku berikan pendapatnya mengenai fitur-fitur Ubuntu 11.04 ini, mengingat terbatasnya waktu dan masih sempitnya pengetahuanku mengenai Linux, khususnya Ubuntu. Tapi aku akan mencari lebih banyak tentang kelebihan Ubuntu terbaru ini mengingat aku yang sudah mulai melirik open source sebagai ‘mainan’ sehari-hari. 

24 April 2011

Menggunakan 'Tikus'


Siapa sih yang tidak tahu dengan mouse ? bukannya mouse yang suka diburu ama kucing itu yah tapi mouse untuk menemani komputer dan notebook. Lah bayangkan kalo enggak ada mouse di tangan anda ketika anda bekerja dengan komputer ? kalo untuk notebook sih masih bisa dimaklumi (karena ada touchpad),tapi kinerjanya tidak seenak mouse biasa pada umumnya.

Mouse pada komputer atau laptopnya umumnya dipakai sebagai input data tool selain keyboard, untuk menggerakkan pointer, dan sebagai alat permainan (bayangkan kalo mau main Solitaire kalo enggak ada mouse :p )

Untuk aku sendiri, mouse itu udah menjadi kebutuhan yang penting, ya karena setiap hari selalu berhadapan dengan notebook. Untuk itu memiliki mouse yang bagus adalah suatu kewajiban yang tidak bisa ditawar-tawar dengan roti tawar atau dengan ikan air tawar (lah kok jadi ngaco yah?).


Pertama tahu mouse itu dari kelas 2 SMP,saat mengikuti ekstra komputer. Mouse yang aku kenal pertama kali adalah mouse yang digerakkan dengan bola. Kalo dulu sih memakai mouse bola sih masih biasa-biasa saja tapi lama-lama juga akhirnya ketemu masalahnya juga (kadang2 bolanya suka macet & harus digerakkan di tempat yang halus dan datar alias mouse pad).

Lanjut dengan mouse optikal,dari SMA sampai kuliah sudah berapa kali aku berurusan dengan mouse tipe ini. Bukannya enggak senang atau gimana yah,tapi masalahnya hampir mirip dengan mouse 'bola' tadi : harus diletakkan di mouse pad. Sialnya lagi,mouse yang bermerek A dan bermerek B tidak selalu bisa digunakan diatas mouse pad yang sama.
Selain dari masalah optikal, urusan kabel yang terkadang membuat perfomanya jadi tidak maksimal,misalnya: kabel yang terlalu pendek atau panjang (tidak semuanya sih)
Yah, terlepas dari kejelekan mouse optikal, mouse optikal juga memiliki nilai seni yang lumayanlah. Buktinya ? Sudah jelas koq,mulai dari bentuk yang paling kecil sampai yang paling besar hingga bentuknya yang unik (bentuk mobil2an hingga pesawat Challenger).

Terakhir sampai saat ini dengan mouse wireless (bukan cordless), kalau melihat mouse wireless ini,sepertinya kita akan teringat dengan wireless fidelity atau WiFi dimana pengguna bisa terkoneksi dengan internet tanpa menggunakan kabel, cukup dengan terhubung dengan hotspot. Terlihat sederhana ? pastinya.
Selain karena kesederhanaannya, mouse wireless juga memiliki nilai lebih, terutama dalam kemudahan penggunaannya, tidak perlu menggunakan mouse pad dan mouse wireless sudah bisa 'beraksi' menggerakkan pointer bahkan jika digerakkan di atas kaca sekalipun. Ini yang tidak dimiliki oleh mouse 'bola' dan mouse optikal.
Tentunya juga dengan konsekuensi yang harus diterima yaitu harga dari mouse wireless itu sendiri yang lumayan 'mahal sedikit' serta rawan akan kejahatan (karena tidak menggunakan kabel,bisa dicuri ato disembunyiin temen :( ).

Apakah kamu mengalami pengalaman yang sama dengan aku ?

19 April 2011

Twitter oh Twitter


Semenjak mengenal Twitter, pengalamanku dalam menggunakan social networking semakin banyak saja. Bukannya tanpa sebab,menurutku Twitter sedikit unik dibandingkan dengan socal networking lainnya seperti Facebook, dan Friendster (oia password Friendsterqu apa yah ? hehehehe lupa coy :p )

Jika ingin mencari informasi yang up to date melalui social networking saat ini, Twitter lah yang paling direkomendasikan. Sudah banyak teman-teman saya yang merasakan faedah dari Twitter itu sendiri,sekalipun ada beberapa teman saya yang meragukan kemampuan Twitter itu sendiri,alasannya logis : 140 karakter saja untuk membuat post di Twitter. Terkadang yang sedikit memiliki fungsi yang tidak sedikit juga.

Mengakses Twitter saat ini bisa dilakukan melalui beberapa cara, diantaranya:


- Melalui situs www.twitter.com (bisa dilakukan di desktop browser atau mobile browser).

- Melalui Twitter application web seperti www.tuitwit.com , m.tweete.net , dabr.com . Application web ini memiliki kemampuan yang tidak dimiliki oleh www.twitter.com, seperti melakukan qoute RT (ReTweet),dan lain-lain.

- Melalui Desktop Application, seperti: Tweetdeck, Seesmic, DestroyTwitter,MetroTwit dan lain-lain. Khusus untuk Tweetdeck dan DestroyTwitter mereka bisa digunakan di berbagai OS seperti Windows,Macintosh,dan Linux ,tentunya dengan menginstal Adobe AIR terlebih dahulu.

- Melalui Mobile Application seperti:
* Snaptu (paltform Java MIDP 2.0)
* UberSocial,SocialScope,Twitter for BlackBerry (platform BlackBerry)
* Tweets60 (Platform Symbian S60)
* Twitbird (Platform iPhone,iPod Touch,dan iPad)
* Tweetdeck (Platform iPhone dan Android)
* dan lain-lain


Selamat bertwitter ria :)

25 November 2010

Sennheiser PX 80



Setelah sekian lama mengumpulkan duit, kira2 setengah jutaan akhirnya saya bisa membeli headphone yang 'mungkin tidak semua orang' memilikinya.. hehehehe

Sennheiser, begitulah mereknya. Mungkin yang udah berpengalaman dalam bidang audio atau istilahnya Audiophile tidak asing lagi dengan nama ini, termasuk juga saya yang menggemari dunia audio. :)

Harga gak pernah bohong, pepatah ini mungkin cocok diberikan kepada Sennheiser. Produknya dikenal memiliki kualitas yang tidak main-main dan sebanding dengan harganya (menurut saya :D ).

Dimana membelinya ? jika saya katakan, mungkin agak ganjil melihatnya karena saya membelinya di toko-toko yang menjual barang-barang dari Apple (bukan apel dipasar yah ?). Disini Sennheiser dan barang-barang lainnya dijual sebagai aksesoris iPod dan iPhone. Cukup masuk akal mengingat iPod adalah player music portable yang menurut saya paling "Top of the top". Maka tidak salah kalau aksesoris audio seperti Sennheiser, Skullcandy, JBL, dan lainnya dijual disini. TOP !

Sekarang saya ingin mengungkap Senheiser PX 80 yang sudah saya beli dengan harga Rp 500.000,00. Menurut saya headphone ini jika dibandingkan dengan headset Sennheiser lainnya seperti PX 100, PX 100-II PX 80 ini terlihat seperti versi murah dari Sennheiser PX 100. Ini dibuktikan dari bentuk fisik dan spesifikasi yang sama. Ada yang mengatakan bahwa headset



PX 80 ini berbeda sedikit dengan PX 100, yakni pada kekuatan bass nya. Yah menurut saya itu sih bersifat relatif, telinga manusia satu dengan yang lainnya toh juga berbeda-beda dalam merespon sebuah suara.

Bisa dilipat ? Unik kelihatannya tapi inilah keunggulannya. Dengan disertakan pouch sebagai wadah headphone tersebut, membawa PX 80 ini tidak serumit headphone lainnya yang tergolong besar dan susah untuk dibawa dalam perjalanan alias portable. :D

Untuk garansi, tentu itu hal yang perlu diperhatikan juga sih, jikalau nanti ada kerusakan yang tidak disengaja. Untuk garansi PX 80 saya diberikan garansi sampai dengan 2 tahun dengan jaminan jika ada rusak, hari itu juga langsung diganti (sepertinya gak mungkin, hehehe).


Berikut adalah spesifikasi dasar dari Sennheiser PX 80* :
Frequency Response 15 - 27.000 Hz
Impedance 32 ohm
Cable Length 1.4 m
Output Sound 114 dB
Weight 60 g





*Spesifikasi ini sama dengan PX 100

Mendengarkan musik yang berkualitas harus dengan sarana prasana yang berkualitas juga. :)